Advertisement

Responsive Advertisement

Ketika Bapak Ingin Berjualan Buku di Depan Sekolah

Trias kecil,

Ada sesuatu yang ingin aku ceritakan.

Suatu hari, Bapak bilang akan jualan buku di depan sekolahmu.

"Sambil nunggu Trias pulang” kata beliau, “Bapak jualan buku di depan sekolah."

Bapak berbinar waktu mengatakan itu. Dan kamu tidak menjawab. Pikiranmu terbang ke halaman sekolah, ke wajah teman-teman, ke wajah Bapak yang nanti melayani pembeli buku.

"Malu engga ya?" kamu bicara di dalam hati.

Tapi rencana bapak tak pernah benar-benar terjadi.
Beberapa bulan kemudian, seorang ibu menghampirimu.

"Bapak kecelakaan" kata ibu itu, "belum tahu gimana keadaannya."

Kamu mematung dalam tiga detik.
Di detik keempat, kakimu berlari.

Kamu buka kamar Bapak. Tidak ada siapa-siapa. Kamu melompat ke pojok tempat tidur, memeluk guling, dan menangis.

Aku tahu apa yang ada di kepalamu sambil menunggu di pojok itu.

Kamu takut hal buruk terjadi pada bapak.

"Bapa teu nanaon."
Lalu suara itu datang dari luar, "Bapak tidak apa-apa."

Kamu menoleh. Tapi kemudian melingkarkan tangan lagi ke guling. Hanya untuk memeluknya lebih erat. Hanya untuk menangis lebih dalam.

Tangan Bapak diperban. Sikunya disangga ke bahu.

Aku paham, hari ini kamu sangat khawatir.
Tapi izinkan Aku duduk di sampingmu waktu itu, di pojok tempat tidur itu, dengan guling yang sama.

Aku ingin mengusap punggungmu dan bilang: Tidak setuju dengan rencana bapak itu bukan kejahatan. Itu hanya berbeda pendapat. Itu wajar dan Itu tak menyebabkan apapun. Waktu itu, kita belum tahu bagaimana rasanya jadi seorang ayah.

Waktu itu, kita tak paham.
Tapi Bapak paham.

Matanya berbinar waktu bilang akan jualan buku di depan sekolahmu. Bukan karena ia tidak tahu bagaimana duniamu bekerja. Tapi karena ia ingin ada di dekatmu, dengan cara apapun yang ia bisa.

Kamu tidak perlu minta maaf, Trias kecil.
Tapi kalau kamu perlu seseorang yang menemani,
tenang saja.

Aku di sini.

Semuanya baik-baik saja.

penjual buku. gemini AI





Posting Komentar

0 Komentar